Ruang Putih

Para Psikopat dari Hollywood

94601large

Hollywood, kelihatannya, semakin gila saja memproduksi film-film horor bertema psikopat. Itu sebuah fenomena kultural penting yang patut kita telaah dengan kerangka pembacaan yang kritis dan hati-hati. Sebab, posisi Hollywood sebagai godfather industri perfilman dunia tentu tidak sekadar berkesenian, berjualan, dan menghibur khalayak, tetapi juga menyimpan sekian kepentingan politik imagologi yang patut diwaspadai.

Sejak lama, horor Hollywood menyajikan tema-tema antimanusia. Beberapa di antara banyak film yang paling dikenal adalah The Silence of The Lambs, Texas Chainsaw Massacre, dan Hannibal Lecture yang bercerita tentang kegeniusan dan keterampilan psikopat dalam membunuh. Kadar kekuatan eksplorasi itu meningkat dalam film-film horor psikopat sesudahnya, seperti SAW, sampai tokoh Joker dalam The Dark Knight.

Eksplorasi film-film tersebut memiliki kekuatan detail masing-masing dan perspektif sendiri tentang psikopat. Dengan ragam sudut pandang, film-film itu berdialektika sekaligus melengkapi satu sama lain. Sehingga, film-film tersebut membentuk suatu rangkaian diskursif, bagai sebuah buku yang penuh dengan ceceran darah. Lengkap sudah Hollywood sebagai gudang (citra) psikopat.

Film Texas Chainsaw Massacre, yang konon diangkat dari kisah nyata, memperlihatkan pengalaman traumatis masa kanak-kanak yang membuat seseorang menjadi supersadis saat dewasa. Itu sama sekali bukan hal baru dalam kajian psikologi. Jadi, sebenarnya film tersebut tidak membawa suatu ide yang mencerdaskan, melainkan semata-mata mengeksploitasi kegilaan dan kesakitan.

Lalu, film SAW menjawabnya dengan memperlihatkan penyakit psikotik yang menghinggapi seseorang di masa dewasa. Jigsaw (Tobin Bell), tokoh utama dalam film SAW, sebelum membunuh selalu meneror si korban dengan menyuarakan pikiran yang penuh dengan kemarahan pada nilai-nilai sosial yang (dianggapnya) telah membusuk. Jadi, problem masa lalu merupakan hal utama dalam psikopatologi yang ditampilkan dua film itu sampai datang tokoh Joker (Heath Ledger), yang tidak lain seorang psikopat yang bisa mengaburkan trauma masa lalu dengan menganggapnya sebagai lelucon belaka.

Benturan Utopia

Secara sosiologis, yang dibangun horor psikopat Hollywood sesungguhnya berbenturan dengan American Dream yang menjadi utopia masyarakat Amerika Serikat pasca-Perang Dunia II. Yakni, pandangan hidup yang melihat bahwa proses kemenjadian manusia di dunia tidak lain ditujukan untuk menjadi diri yang positif, elegan, sukses, dan mapan. Tentu saja mereka punya ukuran yang sangat subjektif untuk hal itu. Yang paling menonjol adalah ekonomisme; keyakinan bahwa kesuksesan ekonomi dan finansial merupakan dasar dan prasyarat primer kebahagiaan manusia.

Utopia itu justru kemudian teraplikasikan dalam skala yang overleaping. Dengan ekonomisme yang penuh banalitas hasrat, tidak heran manusia Amerika Serikat gampang dimanipulasi oleh politik penguasaan kapitalisme dan industrialisasi, yang ujung-ujungnya kini membuat mereka gila kerja, overpragmatis, individualistis, dan minim kepedulian sosial. Sistem kapitalisme industrial memang sangat cocok dengan karakter dan tipikal manusia dengan ambisi tinggi untuk mencapai kesuksesan finansial.

Utopia American Dream telah gagal menjadi sistem nilai sosial yang positif serta pada akhirnya gagal membentuk kesatuan masyarakat Amerika yang sehat dan solid. Sebaliknya, masyarakat Amerika mengidap borok disparitas sosial yang semakin parah. Seorang manusia Amerika bisa saja sangat hangat, ramah, dan antusias serta berempati dalam pergaulan sosial di tempat kerja, tetapi sekaligus dapat sangat dingin dan tak berperasaan pada penderitaan orang lain di luar komunitasnya. Itulah paradoks masyarakat Amerika. Pribadi-pribadi karismatik mereka yang sering tergambarkan dalam film-film drama Hollywood atau buku-buku motivasi produk Amerika paling jauh hanya berlaku satu jalur dalam kelas sosial mereka, tidak menjadi main factor untuk dinamika sosial yang sehat.

Jadi, horor psikopat Hollywood tidak lain merupakan sebuah reaksi pembacaan yang penuh dengan kemuakan serta kebencian atas kegagalan American Dream itu. Sutradara-sutaradara horor psikopat Hollywood tampak sekali muak melihat nilai-nilai sosial yang membusuk dalam tubuh masyarakat Amerika, yang bagai mayat ikan ditutupi kain sutra. Maka, dengan kejujuran yang nekat, mereka menyingkapkan sisi gelap masyarakat Amerika Serikat; kegilaan, kekerasan, kekejian, dan penganiayaan. Semuanya digambarkan begitu total dan vulgar, mulai yang “cerdas” seperti SAW sampai yang paling ngawur serta tak berisi apa-apa selain kebodohan seperti film Cannibal, Insanitarium, dan I Know Who Killed Me.

Problem Sosiologis

Celakanya, film-film itu telah menemukan publik di Indonesia. Selain memang menyingkap sisi lain Amerika dengan kadar objektivitas tertentu, film-film horor psikopat itu mengandaikan sesuatu utopia baru yang berisi konsep-kosep negatif manusia yang belum ada tapi telah menciptakan klise yang memengaruhi banyak orang. Dalam banyak percakapan, saya menemukan kekaguman dari para penonton kita akan watak-watak manusia dalam film-film horor psikopat itu. Tokoh-tokoh tersebut dianggap hebat dan mewakili perasaan mereka selaku orang Indonesia yang juga muak melihat kebusukan sosial Indonesia.

Itu adalah pola adaptasi budaya yang berbahaya sekaligus menyodorkan kepada kita sebuah pertanyaan besar; di mana pertahanan kebudayaan kita? Bukankah kita punya konsep antropologi berdasar tradisi kita dan tidak usah memaknai kemanusiaan dengan berkiblat pada kategori-kategori Hollywood Amerika itu?

Amerika, selain sudah memengaruhi kita dengan buku-buku motivasi, ternyata juga mulai memengaruhi kita dengan konsep-konsep negatif manusia yang mengerikan lewat horor psikopat tersebut. Itu adalah suatu serangan budaya yang sistematis, yang risikonya lebih besar ketimbang sebelumnya. Bila dulu generasi remaja ingusan kita diserang film-film yang penuh dengan laga kekerasan, kini horor psikopat meneror generasi kita di masa dewasa awal, sebuah tahap perkembangan psikologis, saat mereka mulai mengalami kelabilan nilai-nilai. Bila remaja kita menjadi superagresif, horor psikopat menciptakan generasi masa dewasa awal yang mengidap fobia sosial dan ilusi parasosial yang membuat mereka terpecah secara kultural dengan masyarakat. Bila titik-titik penyakit sosial itu kita biarkan, tidak mustahil suatu saat akibat besarnya kita tuai bersama. (*)

*) Ridwan Munawwar, bergiat di komunitas filsafat Being Community Jogjakarta dan studi di Prodi Psikologi UIN Sunan Kalijaga Jogja

Ditulis Kembali oleh : Jani Ferdiansyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s