Cerpen

Pacar, Sore, dan Renyai

Pacar

Dari pertama kali lelaki itu sudah katakan bahwa ia cuma menginginkan seorang pacar. Perempuan yang akan menemaninya jalan-jalan di sore Sabtu dan Minggu atau mendampinginya menghadiri acara kawinan teman kantor. Pacar yang tidak cerewet, tentu saja. Ia sangat bosan berurusan dengan perempuan banyak mau, seperti ibunya. Ah, betapa terganggu hatinya bila mengenang ayah tergopoh-gopoh memenuhi rengekan ibu yang minta dipijit atau dikerok atau dibelikan semangkuk bakso di pangkalan dekat rumah padahal saat itu seharusnya ayah istirahat sepulang kerja. Kini, ayah sudah meninggal. Begitu juga ibu. Tapi ingatan tentang mereka tak pernah mati dari kepala lelaki itu. Sampai dewasa ia tidak habis pikir, kenapa ibu bisa menguasai seluruh lelaki di rumahnya. Semua abangnya bahkan menikah dengan perempuan pilihan ibu. Ia sendiri masih berumur tiga belas tahun ketika ikut dalam iring-iringan pengantar jenazah ibu. Ia tidak tahu persis perasaannya saat itu. Lega atau terluka. Semua seperti sama saja.


Lalu apa yang salah dari lelaki yang hanya ingin punya pacar.

Marinda berujar: Kau benar-benar tidak kepingin memiliki anak-anak berpipi bulat. Tangis bayi yang bagai lagu merdu saat malam. Bau susu basi di mulutnya yang -sungguh, kau tak akan tahu jika kau tidak berani membuka seluruh pintu di dirimu untuk merasakan keajaiban- asam dan manis.

Desember bilang: Aku bisa saja menunggumu, sampai kapan pun, tapi tidak lagi bila kau berumah pada perempuan lain.

Kalimat Desember seolah pukulan halus yang mengetuk-ngetuk pikiran lelaki itu. Aku bisa saja menunggumu... Ia ingat wajah Desember yang tenang. Bahasa tubuhnya betul-betul mengesankan ia perempuan masak. Nada bicaranya tidak berubah, dalam keadaan apa pun. Tanpa ledakan. Ritmis. Kalem. Pendek kata agak sulit untuk betul-betul tahu apa sesungguhnya yang dirasakan atau dipikirkannya. Desember pasti tidak bermaksud membuat dirinya tampak sulit dipahami. Justru ia apa adanya. Ia tidak memerankan seseorang lain dalam dirinya.

Lelaki itu bertemu Desember di pesta akhir tahun. Dikenalkan oleh teman. Ia tidak langsung tertarik pada perempuan itu sampai mereka banyak sekali ngobrol di ujung malam. Banyak topik yang mereka bicarakan. Ternyata Desember suka musik jazz meski -sesuai pengakuannya- ia tak hapal satu pun nama penyanyi jazz dari luar. ”Aku menikmati musiknya dan tak peduli yang lain,” kata Desember.

Sesuatu yang pernah diinginkannya belajar menggebuk drum pada temannya. ”Kenapa tidak jadi,” tanya lelaki itu. Desember tidak menjawab. Lelaki itu menduga-duga ada yang terjadi pada teman drummer Desember atau perempuan itu tak benar-benar mau mewujudkannya, dan memilih membiarkan keinginan itu mengendap dalam ingatannya. Selain terpikat pada alunan musik, Desember suka perjalanan. Ia senang kalau semua itu terjadi secara mendadak, saat ia tak tahu harus ke mana tapi merasa mau pergi. Akhirnya ia akan menumpang saja sebuah bus dan ikut pulang saat bus itu kembali. Kegilaan kecil, Desember terbahak.

Bosan duduk-duduk saja mereka berjalan ke dekat laut. Ada banyak orang di sana, hampir semua berpasangan dan tampak bergolak. Kau bisa renang? tanya lelaki itu membuat Desember menoleh. Saat itulah untuk pertama mata mereka saling meremas lembut. Desember mengangguk dan berujar, ”Tapi tidak di laut. Airnya lengket di kulit. Aku tak pernah suka mandi air laut.” ”Kalau berenang di laut dan bersamaku?” lelaki itu mengejar genit. ”Aku tak boleh kelewat mempercayai seorang laki-laki sebelum tahu banyak tentangnya,” tukas Desember.

Laki-laki itu mengulum senyum. Desember tidak termasuk cantik. Tapi ia mampu membuat dirinya sulit dilupakan pada pertemuan pertama. Memang ada saja perempuan yang seperti itu. Tentu saja tidak dapat dibilang banyak. Karena sedikit, mereka mampu hadir memukau. Bisa dibayangkan bukan, perempuan biasa saja tapi terang benderang. Itu Desember.

Lima minggu lelaki itu mengeja-ngejar Desember. Menguntit perempuan itu ke mana pun pergi. Akhirnya Desember luluh. Mau juga diajak makan malam, berdua saja. Sehabis makan mereka lanjutkan dengan nonton pertunjukan tari kontemporer di Taman Budaya (ini tentu saja ide Desember). Kemudian mereka memutuskan pulang jalan kaki. Desember tidak henti-henti membicarakan langit yang pudar, setengah gelap. Sesekali tunjuknya mengarah ke langit, tepatnya ke sebentuk awan tipis. Mereka membeli dua gelas plastik jus melon di warung kaki lima yang hampir tutup dan menghabiskannya sambil berjalan.

Waktu sudah tengah malam. Kendaraan mulai sepi. Mereka berhenti di sebuah jembatan kecil. Terdengar suara air di bawah jembatan itu. Pastinya air comberan dari ribuan rumah di kota itu. Desember melongokkan kepalanya ke bawah, diikuti lelaki itu. Ketika mengangkat kepala, mata mereka tak lagi sekadar meremas, namun mengirim isyarat kalau mereka mesti ciuman. Yang terjadi mereka hanya saling menggenggam tangan sebab Desember punya prinsip tak akan berciuman sebelum resmi pacaran, sama halnya ia tak mau kawin sebelum menikah. Sampai di rumah, lelaki itu terpaksa onani di kamar mandi.

Seterusnya mereka membuat janji bertemu di berbagai tempat. Paling sering di taman pada hari Sabtu dan Minggu, di mana mereka membeli satu bungkus besar gulali. Mereka menjilati gulali itu bagai dua anak kecil. Tidak jarang mereka kejar-kejaran berebut gumpal terakhir gulali.

”Kenapa kau senang gulali,” Desember menatap.

”Karena sewaktu kecil aku belum pernah mencobanya, lalu sekarang aku melampiaskannya,” ujar lelaki itu.

”Bisa dibilang ternyata sekarang kau amat menyukainya?”

”Tidak terlalu, kecuali menjilat gulali bersamamu. Kau?”

Aku suka sejak dulu. Ketika kecil aku boleh makan apa saja. Bermain apa saja. Melakukan apa saja. Untuk itu aku menghargai kebebasan, dan kebebasan sejati adalah dunia kanak-kanakku itu, kata Desember.

Lalu Desember membicarakan dunia masa kecilnya yang berwarna. Tempat persembunyiannya yang berupa tumpukan jerami. Atau jurang kecil di tepian sungai di mana ia sering menyelam dan menyurukkan kepalanya. Ia juga mengisahkan balai desa tua tempat semua anak menuliskan nama dan pasangan yang diinginkan, biasanya teman satu kelas. Tulisan itu dibuat dengan huruf balok, besar-besar hingga dari jauh teman-temannya bisa membacanya. Harapannya tentu saja gosip itu akan tersiar ke mana-mana, terutama menjadi pembicaraan pada jam istirahat di sekolahnya.

Itu aku, ujar Desember bersemangat. Aku suka cara orang tua membesarkanku. Membiarkan aku liar tanpa batas. Aku diperkenankan bermain di mana saja. Belajar di alam ganas sekalipun. Semua yang pastinya disukai anak-anak. Aku pernah hanyut terbawa arus sungai, pernah berhadapan dengan binatang berbisa atau berkelahi dengan anak laki-laki.

Bila ada yang kurang berkenan hanya cara bapak memperlakukan ibu. Cara ”orang Selatan” sekali. Sebab itu aku tidak ingin punya pacar orang Selatan. Mereka jarang bisa romantis. Jikapun bisa pasti karena dibuat-buat dan itu segera ketahuan. Setelah menikah, perempuan sering dipukuli dan itu dianggap hak laki-laki untuk melakukannya. Kadang aku berpikir bagaimana mungkin kemesraan dan kekerasan terjadi hampir dalam satu waktu. Aku tidak bisa menemukan jawabannya. Juga terhadap hubungan bapak dan ibuku.

Dan kau? tanya Desember, kapan kau merasa paling bebas hingga menempatkannya menjadi pengalaman luar biasa.

Lelaki itu terseret ke masa kecilnya. Dunia ia dan ibu. Cara mencintai ibu yang membuatnya ngeri. Tatapan ibu yang tidak bisa dibantah. Atau ayah yang tidak pernah menyatakan pendapat berbeda dari ibunya dalam rapat keluarga.

Akankah ia pantas mengatakan pada perempuan itu kalau kebebasan ia dapatkan ketika ibu dimakamkan tepat pukul empat sore. Ya, sore itu harus ia akui dadanya meledak kecil.

Namun, ternyata ia malah bertanya: Maukah kau menjadi pacarku, Desember. Menjadi perempuan yang selalu menemaniku di Sabtu sore atau Minggu. Hanya pacar. Karena dengan begitu kau turut membantuku menjadi lelaki yang memiliki kebebasan.

Anjing menyalak dari arah belakang rumah. Lelaki itu menggerutu. Dilepasnya jaket dan kaca mata. Ia merebahkan tubuh di atas sofa warna merah. Matanya mulai perih. Ia sangat mengantuk. Disimpannya cerita tentang Desember. Tentang perempuan yang suatu hari akhirnya bersedia menjadi pacarnya hanya karena ia bukan lelaki Selatan. Bagi lelaki itu tak apa juga. Toh tidak terlampau pahit.

Sore

Sore. Bukan senja.

Marinda mengetuk rumah lelaki itu. Tidak ada yang membuka pintu. Ia ketuk beberapa kali lagi. Marinda menghentak-hentakkan kakinya yang cepat pegal. Ia gelisah. Keningnya mulai lembab oleh keringat. Ia menyadari lelaki itu tidak di rumah. Mungkinkah lelaki itu mulai menghindar, desahnya. Sepuluh menit lalu ia memberitahu lelaki itu mengenai kedatangannya. Memang lelaki itu tidak mengatakan apa-apa selain suara napas yang sengaja dibuat berat, kebiasaan laki-laki yang tengah menghindar dari sesuatu.

Aku telat, tukas Marinda dalam telepon itu.

Hening sesaat. Marinda coba membayangkan raut lelaki itu. Namun ia tahu, banyak lelaki tidak siap berhadapan dengan perempuan yang sudah telat. Jadi ia maklum.

Halo, suara Marinda masih sabar.

Ya…

Kau tidak ingin mengatakan apa-apa.

Aku…

Kau gugup?

Hening lagi.

Halo.

Ya…ya… Sudah berapa lama, tanya lelaki itu dingin.

Sepuluh hari. Dan aku tidak biasa begini, Marinda berusaha menjelaskan.

Apa yang kau inginkan, tanya lelaki itu lagi.

Bukan aku tapi ini masalah kita. Tolong kau ubah pertanyaanmu.

Baik. Apa yang harus kita lakukan.

Sebaiknya kita bertemu dulu.

Kau memberitahu tunanganmu?

Belum. Kemungkinan besar tidak. Ia lelaki yang baik.

Kau ceroboh, Marinda. Ini akan menjadi masalah besar bagimu.

Sekali lagi, tolong, ini masalah kita.

Baik. Maafkan aku.

Dalam sepuluh menit aku sampai di rumahmu. Kita harus bicara lebih banyak. Kumohon.

Dan lelaki itu tidak di rumah saat Marinda benar-benar mengharapkannya. Marinda ingat kunci cadangan yang biasa diletakkan lelaki itu di bawah pot bunga. Benar saja. kunci itu masih di sana. Marinda berpikir telah berapa perempuan yang mengetahui rahasia keberadaan kunci itu. Ia tahu lelaki itu punya banyak teman perempuan. Pertemanan yang sering sampai ke tempat tidur dan menganggap kejadian itu suatu penaklukan saja.

Marinda membuka pintu. Lengang. Ia meyilangkan tangannya di dada karena ia mendadak merasa kedinginan. Ia duduk di sofa warna merah yang masih hangat dan bau rokok. Itu artinya lelaki itu baru beberapa menit saja meninggalkan rumah. Marinda menggigit bibirnya. Lelaki itu memang sering mengatakan kalau ia punya seorang pacar, benar-benar pacar, tapi bukankah Marinda juga punya seorang tunangan yang bahkan akan menikahinya enam bulan lagi.

Sore. Bukan senja. Lelaki itu akan segera kehilangan Marinda untuk selamanya. Sebab perempuan itu baru saja memberi tahu tunangannya kalau ia ingin menikah lebih cepat dari rencana semula dan ia memutuskan keluar dari kantornya dan akan pindah ke kota tempat tunangannya itu bekerja. Keputusan itu memang bukan sesuatu yang paling Marinda inginkan. Tapi ia nyaris tak punya pilihan. Setidaknya keputusan itu mengandung risiko terkecil dibanding ia aborsi atau membiarkan anak itu lahir tanpa seorang bapak di tengah keluarganya yang menjaga sangat ketat soal harga diri. Memang dengan begitu ia telah tidak adil pada laki-laki baik hati.

Marinda keluar dari rumah itu, meletakkan kunci ke tempat semula, dan merasa ingin secepatnya menangis.

Renyai

Laki-laki itu memesan segelas kopi. Rambut dan mukanya kelihatan kusut. Ia duduk di pojok kafe. Menunggu Desember. Ia gelisah sekali walau sekuat apa pun ia coba menyembunyikannya. Ia bersalah pada Marinda. Bahkan kelewat pengecut karena menghindarinya. Bukan. Bukan itu. Ia pasti akan menemui Marinda, tapi dalam situasi yang berbeda. Setidaknya setelah ia bicara dengan Desember. Ia hanya berharap Marinda sedikit bersabar. Mereka tidak mungkin bicara dalam kondisi emosi yang jelek. Itu tak akan menghasilkan apa-apa.

Renyai. Lelaki itu menyingkap tirai dan pucuk hidungnya hampir menempel kaca. Ia sedikit pesimistis Desember akan datang. Beberapa kali Desember menyatakan tak suka pada renyai. Perasaan lelaki itu menjadi hambar. Ia kembali ke posisi semula. Menyandarkan punggungnya ke kursi. Minum kopi.

Datanglah, Desember, gumamnya. Datanglah sebagai pacar yang penuh pengertian untuk beberapa menit saja. Ini penting sekali. Terakhir kali. Aku cuma ingin tahu pendapatmu mengenai seorang bayi. Atau tentang pernikahan. Apakah semua itu akan terasa begitu sulit bagi seorang lelaki yang hanya ingin punya pacar.

Lalu pintu itu terbuka. Desember berdiri di sana. Ia melangkah lambat sekali. Nyaris tanpa suara. Mata Desember menemukan lelaki itu. Langkahnya segera mengarah ke pojok ruangan.

Kau lama menunggu, sapa Desember manis.

Lelaki itu hanya menatap Desember. Mendadak ia sedih sekali. Seharusnya dari awal ia meminta Desember lebih dari pacar. Semua telah serba terlambat saat Desember berdiri di depannya, memamerkan roman muka yang teduh bagai gadis kecil yang terlalu cepat dewasa.

”Kau lusuh sekali,” Desember duduk di hadapan pacarnya.

Lelaki itu menyeruput kopi lagi. ”Aku sempat berpikir kau tak datang sebab kau tak suka renyai merusak bedakmu. Minum kopi?”

Desember menggeleng lembut. ”Aku lebih senang kalau kau langsung bicara. Biar aku tak lama-lama merasa gugup.”

Lelaki itu meremas jari-jari Desember. ”Desember, aku tak yakin bisa mengatakan apa-apa padamu.”

”Ada apa.”

”Kacau sekali.”

”Aku pacarmu. Kau tak percaya padaku?”

”Bukan begitu. Namun ini sesuatu yang besar, Desember. Sesuatu yang menakutkan.”

”Barangkali kau ingin pergi dariku dan tak bisa menyampaikannya. Begitu?”

Lelaki itu sedikit tercengang. Bagaimanapun bukan itu yang ada dalam pikirannya.

”Sungguh kau ingin pergi dariku?” ulang Desember.

”Ada perempuan yang sedang menunggu di rumahku. Dia hamil dan itu bayiku.” Lelaki itu terpancing.

Desember tercengang, namun ia menampakkan reaksi biasa. ”Dia pacarmu juga?” suaranya berusaha tenang dan terkendali.

”Bukan. Perempuan itu sudah punya tunangan.”

”Kalian membingungkan.” Desember menarik napas panjang. ”Apa yang akan kau lakukan.”

”Aku harus menemuinya.”

”Pulang dan temui dia.”

”Desember, aku tetap ingin bersamamu.”

”Jangan.” Desember menarik tangannya dari genggaman lelaki itu. ”Ini pasti berakhir.”

Kemudian Desember berdiri. Ia keluar seanggun ketika ia masuk. Sementara lelaki itu memilih tak mengejar. Melalui kaca, ia menyaksikan Desember segera menghambur dalam renyai.

Kemudian Desember naik taksi. Ia minta pada sopir untuk membawanya keliling kota. Dalam perjalanan itu Desember menangis keras-keras. Sopir taksi seolah telah terbiasa dengan perempuan yang menangis setelah bertemu pacar. Dan dalam sehari itu sudah dua perempuan yang menangis dalam taksinya.***

Jogjakarta, September 2009

*) Yetti A.KA, bergiat di Komunitas Daun, Padang

Ditulis Kembali oleh :

Jani Ferdiansyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s